Anemia Defisiensi Besi pada Anak Jadi Ancaman Tersembunyi, RSUD Jombang Dorong Deteksi Dini

JOMBANG, JurnalTerdepan.com – Anemia defisiensi besi (ADB) pada anak menjadi salah satu persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius dari orang tua. Kondisi yang kerap tidak menunjukkan gejala pada tahap awal tersebut dapat berdampak pada perkembangan otak, kemampuan kognitif, motorik, bahasa, perilaku, hingga proses belajar anak.

Hal itu disampaikan dokter spesialis anak RSUD Jombang, dr. Ahmad Mahfur, Sp.A, dalam program Humas RSUD Jombang Menyapa bertema “Anemia Defisiensi Besi, Ancaman Tersembunyi bagi Tumbuh Kembang Anak”, Senin (10/8/2026).

Menurut dr. Ahmad, anemia defisiensi besi merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah batas normal sesuai usia anak akibat kekurangan zat besi.

“Anemia defisiensi besi itu adalah suatu kondisi di mana kadar hemoglobin di dalam darah lebih rendah dari sewajarnya sesuai dengan usia anak, yang penyebabnya dikarenakan kekurangan zat besi,” jelasnya.

Ia mengingatkan orang tua untuk mewaspadai sejumlah tanda, seperti anak terlihat lemas dan pucat. Namun, kondisi tersebut biasanya baru terlihat ketika anemia sudah menimbulkan gejala klinis.

“Jika kita melihat anak-anak kita terlihat lemah dan pucat, itu berarti anemianya sudah bermanifestasi klinis atau sudah menunjukkan gejala klinisnya,” ujarnya.

Menurutnya, orang tua yang menemukan tanda tersebut sebaiknya membawa anak ke fasilitas kesehatan untuk menjalani pemeriksaan darah. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan apakah kondisi pucat disebabkan anemia sekaligus mengetahui kemungkinan kekurangan zat besi.

Berdampak pada Perkembangan Otak

dr. Ahmad menekankan pentingnya pemenuhan zat besi sejak 1.000 hari pertama kehidupan, yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Periode tersebut merupakan fase penting bagi pertumbuhan dan perkembangan otak.

“Zat besi itu mempunyai pengaruh yang besar terhadap pembentukan otak di 1.000 hari pertama. Jadi ketika ada anak yang kekurangan zat besi, perkembangan otaknya bisa bermasalah,” terangnya.

Dampak kekurangan zat besi tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Gangguan juga dapat terjadi pada perkembangan kognitif atau kecerdasan, motorik, bahasa dan bicara, perilaku, perhatian, hingga kemampuan belajar anak.

“Perkembangan otak sangat berkaitan dengan perkembangan anak. Misalnya dia defisiensi besi atau kekurangan zat besi, sering kali muncul masalah yang terkait dengan perkembangan, misalnya kognitif atau kecerdasan anak, perkembangan motorik, perkembangan bahasa dan bicara, perkembangan perilaku maupun perhatian anak, bahkan lebih jauh terkait dengan masalah perkembangan belajar anak,” paparnya.

Ia juga mengingatkan bahwa dampak kekurangan zat besi pada perkembangan otak dapat berlangsung dalam jangka panjang.

“Dampaknya besar terhadap perkembangan otak, bahkan sifatnya bisa permanen. Artinya, hari ini mungkin kelihatan tidak apa-apa, tetapi nanti ke depan, masa depannya, perkembangannya, kecerdasannya mungkin sedikit bermasalah,” tuturnya.

Kerap Tidak Menunjukkan Gejala

Anemia defisiensi besi disebut sebagai ancaman tersembunyi karena anak dengan kekurangan zat besi ringan masih dapat terlihat sehat dan aktif. Anak tetap bermain, makan, minum, serta tampak ceria sehingga kondisi tersebut sering tidak disadari orang tua.

“Kekurangan zat besi ini merupakan suatu ancaman tersembunyi bagi anak. Ketika ada anak kekurangan zat besi atau anemianya ringan, biasanya tidak ada gejala yang muncul karena anak tetap bisa aktif, bisa bermain, makan dan minum biasa, masih kelihatan ceria,” kata dr. Ahmad.

Karena itu, orang tua tidak disarankan hanya mengandalkan kondisi fisik anak untuk mengetahui ada atau tidaknya anemia. Pemeriksaan atau skrining menjadi penting, terutama pada usia yang rentan mengalami kekurangan zat besi.

dr. Ahmad menyebut usia sekitar sembilan bulan hingga satu tahun sebagai salah satu periode yang dianjurkan untuk dilakukan skrining pemeriksaan darah.

“Orang tua disarankan untuk skrining karena ada periode-periode tertentu anak itu gampang terkena kekurangan zat besi. Terutama pada usia sembilan bulan sampai satu tahun itu dianjurkan untuk dilakukan skrining pemeriksaan darah,” ujarnya.

Anak di Bawah Dua Tahun Berisiko

Di RSUD Jombang, kasus anemia dan kekurangan zat besi pada anak masih cukup sering ditemukan. Kasus tersebut paling banyak dijumpai pada anak berusia di bawah dua tahun, meski pada kelompok usia di bawah lima tahun juga masih ditemukan.

Tidak jarang, anemia diketahui secara tidak sengaja ketika anak menjalani pemeriksaan atau mendapatkan perawatan karena masalah kesehatan lainnya.

Sejumlah kelompok anak juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami anemia defisiensi besi, antara lain bayi yang lahir prematur, anak yang lahir dari ibu yang mengalami anemia saat hamil, serta anak yang tidak mendapatkan asupan zat besi yang cukup setelah memasuki masa pemberian makanan pendamping ASI (MPASI).

dr. Ahmad menjelaskan, pemberian ASI eksklusif tetap dianjurkan hingga usia enam bulan. Setelah memasuki usia tersebut, kebutuhan zat besi anak harus mulai dipenuhi melalui MPASI yang kaya zat besi.

“Cukup ASI itu sampai usia enam bulan. Begitu dia menginjak enam bulan, waktunya MPASI. Kadar besi di dalam ASI itu sudah turun banyak, sehingga pada saat itulah anak sudah harus memenuhi kebutuhan besinya lewat MPASI,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya pemberian MPASI dengan kandungan zat besi, terutama yang berasal dari sumber protein hewani.

“Ketika anak itu tidak memenuhi kebutuhan MPASI yang kaya akan zat besi, dia akan cepat kena anemia defisiensi besi,” imbuhnya.

Selain faktor nutrisi, anak dengan penyakit kronis juga memiliki risiko lebih tinggi, termasuk anak dengan infeksi kronis seperti tuberkulosis (TBC) maupun gangguan pencernaan yang menyebabkan malabsorpsi atau terganggunya penyerapan nutrisi.

Perkuat Pencegahan dan Pemantauan

Untuk mencegah anemia defisiensi besi, orang tua dianjurkan memberikan makanan kaya zat besi, terutama sumber protein hewani seperti daging, ayam, telur dan ikan.

Pemberian suplementasi zat besi juga dapat dilakukan sesuai anjuran tenaga kesehatan, terutama bagi anak yang memiliki faktor risiko.

“Yang pertama orang tua harus memberikan makanan pada anaknya, makanan yang tinggi zat besi, yaitu makanan yang banyak mengandung protein hewani seperti daging, ayam, telur dan ikan,” kata dr. Ahmad.

Ia juga menganjurkan skrining sejak usia sekitar sembilan bulan serta pemantauan tumbuh kembang anak secara rutin melalui posyandu.

Pemantauan tersebut mencakup berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, serta perkembangan anak.

RSUD Jombang Kembangkan Layanan Tumbuh Kembang Terintegrasi

Seiring meningkatnya perhatian terhadap persoalan tumbuh kembang anak, RSUD Jombang terus mengembangkan pelayanan tumbuh kembang secara terintegrasi.

Pelayanan tersebut melibatkan berbagai tenaga profesional, mulai dari dokter spesialis anak, dokter rehabilitasi medik, psikolog, psikiater hingga ahli gizi. Kolaborasi tersebut dilakukan untuk memberikan intervensi dan tata laksana sesuai kebutuhan masing-masing anak.

“Kita sudah mulai poli tumbuh kembang secara terintegrasi. Saat ini sudah berjalan cukup bagus dan melayani masalah-masalah tumbuh kembang yang semakin banyak pasiennya,” ungkap dr. Ahmad.

Ia berharap kolaborasi lintas profesi tersebut dapat memberikan hasil optimal bagi anak yang mengalami masalah tumbuh kembang.

Menutup keterangannya, dr. Ahmad mengingatkan orang tua agar tidak menunggu hingga anak menunjukkan gejala anemia. Pencegahan dan deteksi dini dinilai jauh lebih penting untuk melindungi tumbuh kembang anak.

“Khusus untuk anak yang anemia defisiensi besi, saya mengingatkan kepada orang tua bahwa mencegah jauh lebih penting daripada anak itu sudah mengalami anemia defisiensi besi, karena anak-anak yang kekurangan zat besi itu kebanyakan tidak bergejala,” tandasnya.

Ia mengajak orang tua berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila memiliki kekhawatiran terhadap kondisi anak, melakukan skrining sesuai anjuran, serta rutin membawa anak ke posyandu untuk memantau pertumbuhan dan perkembangannya.

Dengan deteksi dan penanganan sedini mungkin, risiko anemia defisiensi besi diharapkan dapat ditekan sehingga tumbuh kembang, kemampuan belajar, dan masa depan anak dapat berlangsung secara optimal. (red/rhy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *